World Bank (Bank Dunia)
memberikan bantuan kepada PERPAMSI berupa program Peningkatan
Kapasitas Kelembagaan (Capacity Building). Program tersebut
merupakan upaya untuk memperkuat pengelolaan sektor
air minum dan peningkatan pelayanan . Bantuan akan direalisasikan
dalam bentuk peningkatan kapasitas lembaga-lembaga kunci
sektor PERPAMSI dan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum).
Kerjasama Bank Dunia
dan PERPAMSI ini merupakan wujud reformasi kebijakan
di Indonesia, yang tercermin dalam "letter of intent
to the Indonesian people". Reformasi kebijakan ini akan
menyuguhkan agenda ambisius dalam mereformasi masalah-masalah
dalam skala luas. Hal itu langsung terkait dengan penurunan
angka kemiskinan dan pertumbuhan. Dibandingkan dengan
negara-negara lain, cakupan pelayanan permukiman di
Indonesia sangat rendah dengan permasalahan deefisienesi
yang sangat serius serta mengalami hambatan operasional
dan pemeliharaan.
Strategi Bank Dunia
untuk mendukung momentum reformasi itu telah dipaparkan
dalam Country Assistance Strategy (CAS), yang mencakup
periode 2004 - 2007. CAS secara spesifik menyebutkan
dua tantangan utama - rendahnya investasi dan lemahnya
pelayanan. Empat platform bisnis yang ditetapkan untuk
implementasi CAS Bank Dunia tersebut, ada dua kerangka
yang penting untuk sektor air minum - public utility
dan platform pelayanan lokal. Pembiayaan dan proyek-proyek
Bank Dunia dipengaruhi, antara lain oleh komitmen utama
untuk capacity building.
Bank Dunia memberikan
asistensi untuk mereformasi kelembagaan, yang berperan
dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas di
sekor air minum. Agar menghasilkan dua tujuan tersebut,
Bank Dunia menyarankan membuat benchmarking kinerja
PDAM, peningkatan partisipasi stakeholder dan penyadaran
publik.
Hal ini penting dalam
desentralisasi sektor pelayanan air minum perkotaan
yang akan diikuti partisipasi para stakeholder baru,
sektor yang pada masa lalu telah terbebani oleh investasi
fisik yang berlebihan dan kurangnya perhatian pada kapasitas
kelembagaan dan sumber daya manusia. Berdasarkan hal
itu, PDAM harus dikelola lebih baik, lebih efisien dan
kondisi keuangan yang berkelanjutan. Harapan dan perjanjian
kerjasama dari lembaga-lembaga pemodal, dan donor di
sektor air minum Indonesia saat ini menuntut PDAM untuk
dikelola secara bisnis. Korporatisasi PDAM, perbaikan
kinerja dan akuntabilitas, dan penyediaan informasi
yang cepat dan akurat kepada para pengambil keputusan
adalah di antara tantangan peningkatan kapasitas yang
harus dicapai pada sub-sektor ini.
Banyak pemerintah daerah
yang menyadari bahwa kebutuhan untuk menerapkan good
governance bagi PDAM. Program Air dan Sanitasi Indonesia
(WASAP Indonesia) didesain untuk mengalokasikan dana
berbasis kompetisi bagi PDAM. Dengan meningkatkan keberlanjutan
fiskal dan memperluas cakupan, maka masyarakat miskin
dilayani lebih baik. Program peningkatan kapasitas yang
diusulkan dalam WASAP yang didukung oleh Dutch Trust
Fund akan menggunakan pendekatan pragmatis untuk memperkuat
kapasitas sektor air minum di Indonesia dan juga menyediakan
dukungan langsung kepada komponen-komponen kapasitas
yang terkait dengan proyek-proyek Bank Dunia dalam sektor
air minum dan sanitasi.
Program tersebuti terdiri
atas tiga upaya yang saling terkait, seperti memperkuat
asosiasi perusahaan air minum yang profesional (PERPAMSI).
antara lain dengan memperbarui dan mengembangkan Sistem
Benchmarking Nasional untuk Kinerja PDAM; mengembangkan
komunikasi untuk publik dan mendukung percontohan korporatisasi
PDAM. Adapun komponen-komponen twinning program tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Penguatan Pelayanan Komunikasi dan Informasi
2. Penguatan Program Benchmarking
3. Penguatan Yayasan Pendidikan Tirta Dharma
Tahap-tahap awal dari
upaya-upaya tersebut telah dilaksanakan pada tahun 2005,
dengan diselenggarakannya beberapa workshop dan asistensi
dari pihak World Bank Institute. Pada bulan April diselenggarakan
Workshop Strategi Komunikasi untuk Reformasi di bidang
Air Minum dan Sanitasi yang melibatkan 40 peserta dari
DPD Perpamsi, PDAM dan stakeholder baik dari pemerintah,
lembaga donor dan wakil dari publik. Kemudian dilanjutkan
dengan need assesment dan menghasilkan pengembangan
strategi komunikasi ke depan.
Saat ini, WBI telah
mengembangkan program NRW Reduction untuk memberikan
penyatuan pemahaman kepada seluruh PDAM tentang Penurunan
Kehilangan Air yang kemudian pada proses workshop disepakati
dengan istilah Penurunan Air Tak Berekening. Disamping
hal tersebut WBI secara langsung memberikan pendampingan
teknis dan pelatihan metodologi pengukuran tingkat kehilangan
air sesuai standar International Water Association (IWA).
Workshop tahap pertama berlangsung sejak bulan April,
Agustus, Desember 2005 dan akan berakhir pada bulan
Juni 2006 yang akan datang. Workshop ini diikuti oleh
30 peserta dari PDAM, Palyja, TPJ , YPTD dan Lembaga
Pendidikan Akatirta Magelang.
Pembaharuan sistim benchmarking
PDAM menjadi standar internasional juga telah dilaksanakan
yaitu meliputi evaluasi indikator, pengembangan sistem
database yang kompatibel dengan IBnet , pengembangan
dokumentasi dan buku-buku panduan. Tahap awal ini diakhiri
dengan Seminar Sehari bagi PDAM, Badan Pengawas dan
stakeholder yang terkait pada bulan Desember 2005 untuk
memastikan akurasi dan keseragaman output dan standar
pelaporan, serta meng-upgrade prosedur bila diperlukan.
Suatu Needs Assessment
dan Strategi Bisnis menjadi bagian yang penting bagi
kegiatan training yang dilaksanakan oleh Yayasan Pendidikan
Tirta Darma (YPTD). Rekomendasi dari assessment ini
menjadi masukan utama bagi pengembangan strategi bisnis
yang dapat merespon lebih baik terhadap kebutuhan training
bagi PDAM dan klien lainnya.
Selain Twinning Program
diatas World Bank mendukung dan akan memfasilitasi korporatisasi
PDAM agar PDAM diIndonesia mempunyai pengelolaan yang
efektif, otonom, akuntabel, berorientasi pelanggan dan
sebagainya yang akan berujung pada semakin efisiennya
sub-sektor air minum di Indonesia. Menciptakan kondisi
kelembagaan dan organisasi yang mendorong perusahaan
air minum untuk lebih efisien dan lebih responsif kepada
kebutuhan pengguna jelas-jelas merupakan tantangan besar
di sektor air minum.
Pada bulan Februari
2006 yang akan datang, World Bank dan PERPAMSI akan
mengadakan midterm review dari hasil pelaksanaan program
tahap awal tersebut yang akan menjadi pertimbangan tindak
lanjut program ke depan.
( Wiwit Heris )