Perpamsi Gandeng IATPI Gelar Expo 2011 
Perpamsi dan Ikatan Ahli Teknik Penyehatan Indonesia akan bekerja sama menggelar suatu kegiatan yang dinamakan Indonesian Water and Waste Water Exhibition and Forum 2011 yang direncanakan berlangsung di Jakarta Januari 2011.
Penandatanganan perjanjian kerja sama antara kedua asosiasi dalam menyelenggarakan kegiatan bersifat internasional itu dilakukan oleh Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Ir. Budi Yuwono dalam kedudukannya selaku Ketua Umum IATPI, dan Ketua Umum Perpamsi Dr. Ir. Syaiful, DEA di Graha Perpamsi Jakarta, Jumat 11 Juni 2010.
Peristiwa yang dihadiri oleh para anggota pengurus IATPI dan jajaran Sekretariat Perpamsi itu sekaligus merupakan suatu catatan tersendiri bagi Perpamsi, di mana untuk pertama kalinya seorang direktur jenderal dari jajaran Pemerintah berkenan mengunjungi Graha Perpamsi.
Ketua Umum Perpamsi pada kesempatan itu menyatakan sangat senang bahwa IATPI tidak hanya mendukung seperti yang telah terjadi pada kegiatan serupa tahun-tahun sebelumnya, tetapi kali ini justru ikut serta sebagai penyelenggara, dan ikut bertanggung jawab atas keberhasilan kegiatan tersebut, yang tujuannya tidak lain adalah mendukung usaha-usaha Pemerintah dalam memenuhi MDGs, serta mencapai tingkat kesehatan masyarakat yang lebih tinggi lagi.
Dalam pada itu diungkapkan, bahwa pada suatu bincang-bincang baru-baru ini dengan Pak Budi Yuwono, muncul suatu wacana untuk menggelar suatu pameran air minum dan sanitasi yang bersifat agak santai di suatu lapangan terbuka dengan menghadirkan para pejabat penting negara termasuk Presiden dengan didukung oleh para artis dan melibatkan dunia industri untuk menampilkan produk-produk mereka.
Acara yang diimpi-impikan itu menurut Ketua Umum Perpamsi pasti akan sangat berkesan, di mana Perpamsi bersama IATPI sebagai penyelenggara cukup menyediakan kaos kepada para pengunjung. Kegiatan dapat diselenggarakan di lapangan terbuka seperti Monas misalnya.
Dengan kegiatan seperti itu dipastikan baik Perpamsi maupun IATPI akan semakin dikenal dan diperhitungkan di tingkat para pengambil keputusan di bidang air minum dan sanitasi di negara kita ini.
Pada kesempatan itu Ketua Umum sekaligus minta kepada Sekretariat Perpamsi untuk mencarikan tempat dan tanggal yang paling pas, misalnya dapat dikaitkan dengan peringatan Hari Air Dunia, Hari Kesehatan atau peringatan peristiwa penting lainnya.
Tak lupa, Ketua Umum juga menyampaikan harapannya agar ke depan Perpamsi bersama IATPI semakin sering bergandengan tangan bekerja sama dalam mendukung berbagai usaha Pemerintah dalam mencapai MDGs, peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. “Kalau ada niat Pak, pasti bisa,” ujar Syaiful optimistis.
“Apalagi kalau IATPI ikut mendukung, sponsor pasti lebih meningkat lagi sehingga baik Perpamsi, IATPI, maupun para sponsor sama-sama mendapatkan manfaat, dan di sisi lain kegiatan semacam itu dapat lebih mendorong program Pemerintah.
Dirjen Cipta Karya dalam posisinya selaku Ketua IATPI membenarkan pandangan-pandangan yang disampaikan oleh Ketua Umum Perpamsi, bahwa ke depan akan semakin banyak kegiatan yang dapat dilaksanakan bersama.
Dijelaskan, bahwa dalam penanganan air minum baik Perpamsi maupun IATPI sama-sama bertanggung jawab. Apalagi mengingat pencapaian di bidang air minum hingga saat ini masih terbatas. Jadi katanya adalah benar, Perpamsi dan IATPI perlu mendorong dan menyokong upaya-upaya Pemerintah. Ia juga berharap kedua asosiasi ini perlu mengupayakan agar terdapat kesamaan persepsi mulai dari tingkat pengambil kebijakan, hingga kepada pelaksanaan di lapangan, sampai pada pelaksana-pelaksana di daerah.
Selaku organisasi menurut Budi Yuwono, baik Perpamsi maupun IATPI, pertama-tama harus berusaha agar kegiatannya bermanfaat bagi para anggotanya. Dengan adanya manfaat bagi anggota katanya, dengan sendirinya masyarakat juga akan mendapatkan manfaat.
Oleh karena itu ia berharap agar kedua organisasi ini bekerja sama erat dalam berbagai kegiatan bersama ke depan. Bahkan ia menyarankan agar kegiatan yang akan diselenggarakan bersama bulan Januari 2011 mendatang dijadikan sebagai acara regular tiap tahun.
Diungkapkan, bahwa IATPI sendiri juga punya sebuah agenda tetap tahunan berupa pertemuan para ahli dalam bentuk seminar. Jika pertemuan semacam itu hanya terbatas pada sekitar 100 orang, dan hanya terbatas di antara para ahli saja, maka ke depan juga diperlukan hubungan dengan pasar. Karena di situlah nanti akan terlihat hakikat ilmu itu, yang harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga berpesan agar Expo itu nanti tidak hanya sekadar ajang berpromosi, tetapi perlu dipikirkan tindak lanjut dari kegiatan itu secara tematis. Dicontohkannya apa yang dilakukan di Singapura. Dalam setiap Expo katanya, pasti ada tema-tema tertentu yang ditonjolkan. Dan selalu diusahakan agar terjadi pengembangan teknologi sesuai dengan tema yang dipilih. Maka, kata Budi Yuwono, dalam Expo yang akan diselenggarakan nanti perlu ditentukan temanya, dan ini perlu dikoordinasikan dengan pihak industri agar teknologi kita itu dapat berkembang. Dan di sisi lain, Expo tidak membosankan. Maka sebelum Expo diselenggarakan, panitia pelaksana perlu membuat persiapan yang matang, menentukan tema, lalu membicarakannya dengan pihak industri yang ikut dalam Expo.
Budi Yuwono mengingatkan, bahwa teknologi kita di bidang air hingga sekarang masih konvensional dan terkesan mandeg. Padahal seperti di Singapura, teknologi membran misalnya maju pesat sementara kita hanya pengimpor teknologi.
Kita sebenarnya menurut Budi Yuwono mempunyai banyak ahli, tetapi terkesan belum matched dengan industri. Karena itu kegiatan seperti ini perlu dikomunikasikan dengan pihak industri supaya pihak industri terangsang untuk berperan dalam pengembangan suatu teknologi.
“Kita sering menganggap bahwa teknologi konvensional itu adalah yang paling murah,” ujar Budi Yuwono lagi seraya menambahkan, bahwa anggapan itu tidaklah benar. Sebagai contoh katanya, ada seseorang yang datang padanya menjelaskan bahwa tekonologi RO (reverse osmosis) sudah semakin murah, bahkan telah mencapai US$ 1. Artinya, teknologi tersebut sudah dapat mengolah air laut dengan biaya US$ 1 per meter kubik. “Padahal DKI sekarang menjual air Rp 7.000 per meter kubik, sudah hampir satu dolar karena ketidakefisienan kita.” ujarnya.
Tanpa mengambil perbandingan-perbandingan seperti itu menurut Budi Yuwono, kita merasa sudah puas.
”Itulah salah satu tujuan suatu Expo,” katanya lagi.
Ia meminta agar IATPI dalam hal ini membantu memberi warna. Termasuk mencari sesuatu yang berkaitan dengan gagasan untuk menggelar kegiatan-kegiatan terbuka seperti diungkapkan di muka. Dengan demikian pengunjung dapat mencapai puluhan ribu orang seperti yang pernah disaksikannya baru-baru ini. Asal temanya pas menurut Budi Yuwono, Perepamsi bersama-sama IAPI pasti dapat menyelenggarakan suatu kegiatan terbuka dengan sukses. Victor Sihite
Penandatanganan perjanjian kerja sama antara kedua asosiasi dalam menyelenggarakan kegiatan bersifat internasional itu dilakukan oleh Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Ir. Budi Yuwono dalam kedudukannya selaku Ketua Umum IATPI, dan Ketua Umum Perpamsi Dr. Ir. Syaiful, DEA di Graha Perpamsi Jakarta, Jumat 11 Juni 2010.
Peristiwa yang dihadiri oleh para anggota pengurus IATPI dan jajaran Sekretariat Perpamsi itu sekaligus merupakan suatu catatan tersendiri bagi Perpamsi, di mana untuk pertama kalinya seorang direktur jenderal dari jajaran Pemerintah berkenan mengunjungi Graha Perpamsi.
Ketua Umum Perpamsi pada kesempatan itu menyatakan sangat senang bahwa IATPI tidak hanya mendukung seperti yang telah terjadi pada kegiatan serupa tahun-tahun sebelumnya, tetapi kali ini justru ikut serta sebagai penyelenggara, dan ikut bertanggung jawab atas keberhasilan kegiatan tersebut, yang tujuannya tidak lain adalah mendukung usaha-usaha Pemerintah dalam memenuhi MDGs, serta mencapai tingkat kesehatan masyarakat yang lebih tinggi lagi.
Dalam pada itu diungkapkan, bahwa pada suatu bincang-bincang baru-baru ini dengan Pak Budi Yuwono, muncul suatu wacana untuk menggelar suatu pameran air minum dan sanitasi yang bersifat agak santai di suatu lapangan terbuka dengan menghadirkan para pejabat penting negara termasuk Presiden dengan didukung oleh para artis dan melibatkan dunia industri untuk menampilkan produk-produk mereka.
Acara yang diimpi-impikan itu menurut Ketua Umum Perpamsi pasti akan sangat berkesan, di mana Perpamsi bersama IATPI sebagai penyelenggara cukup menyediakan kaos kepada para pengunjung. Kegiatan dapat diselenggarakan di lapangan terbuka seperti Monas misalnya.
Dengan kegiatan seperti itu dipastikan baik Perpamsi maupun IATPI akan semakin dikenal dan diperhitungkan di tingkat para pengambil keputusan di bidang air minum dan sanitasi di negara kita ini.
Pada kesempatan itu Ketua Umum sekaligus minta kepada Sekretariat Perpamsi untuk mencarikan tempat dan tanggal yang paling pas, misalnya dapat dikaitkan dengan peringatan Hari Air Dunia, Hari Kesehatan atau peringatan peristiwa penting lainnya.
Tak lupa, Ketua Umum juga menyampaikan harapannya agar ke depan Perpamsi bersama IATPI semakin sering bergandengan tangan bekerja sama dalam mendukung berbagai usaha Pemerintah dalam mencapai MDGs, peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. “Kalau ada niat Pak, pasti bisa,” ujar Syaiful optimistis.
“Apalagi kalau IATPI ikut mendukung, sponsor pasti lebih meningkat lagi sehingga baik Perpamsi, IATPI, maupun para sponsor sama-sama mendapatkan manfaat, dan di sisi lain kegiatan semacam itu dapat lebih mendorong program Pemerintah.
Dirjen Cipta Karya dalam posisinya selaku Ketua IATPI membenarkan pandangan-pandangan yang disampaikan oleh Ketua Umum Perpamsi, bahwa ke depan akan semakin banyak kegiatan yang dapat dilaksanakan bersama.
Dijelaskan, bahwa dalam penanganan air minum baik Perpamsi maupun IATPI sama-sama bertanggung jawab. Apalagi mengingat pencapaian di bidang air minum hingga saat ini masih terbatas. Jadi katanya adalah benar, Perpamsi dan IATPI perlu mendorong dan menyokong upaya-upaya Pemerintah. Ia juga berharap kedua asosiasi ini perlu mengupayakan agar terdapat kesamaan persepsi mulai dari tingkat pengambil kebijakan, hingga kepada pelaksanaan di lapangan, sampai pada pelaksana-pelaksana di daerah.
Selaku organisasi menurut Budi Yuwono, baik Perpamsi maupun IATPI, pertama-tama harus berusaha agar kegiatannya bermanfaat bagi para anggotanya. Dengan adanya manfaat bagi anggota katanya, dengan sendirinya masyarakat juga akan mendapatkan manfaat.
Oleh karena itu ia berharap agar kedua organisasi ini bekerja sama erat dalam berbagai kegiatan bersama ke depan. Bahkan ia menyarankan agar kegiatan yang akan diselenggarakan bersama bulan Januari 2011 mendatang dijadikan sebagai acara regular tiap tahun.
Diungkapkan, bahwa IATPI sendiri juga punya sebuah agenda tetap tahunan berupa pertemuan para ahli dalam bentuk seminar. Jika pertemuan semacam itu hanya terbatas pada sekitar 100 orang, dan hanya terbatas di antara para ahli saja, maka ke depan juga diperlukan hubungan dengan pasar. Karena di situlah nanti akan terlihat hakikat ilmu itu, yang harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga berpesan agar Expo itu nanti tidak hanya sekadar ajang berpromosi, tetapi perlu dipikirkan tindak lanjut dari kegiatan itu secara tematis. Dicontohkannya apa yang dilakukan di Singapura. Dalam setiap Expo katanya, pasti ada tema-tema tertentu yang ditonjolkan. Dan selalu diusahakan agar terjadi pengembangan teknologi sesuai dengan tema yang dipilih. Maka, kata Budi Yuwono, dalam Expo yang akan diselenggarakan nanti perlu ditentukan temanya, dan ini perlu dikoordinasikan dengan pihak industri agar teknologi kita itu dapat berkembang. Dan di sisi lain, Expo tidak membosankan. Maka sebelum Expo diselenggarakan, panitia pelaksana perlu membuat persiapan yang matang, menentukan tema, lalu membicarakannya dengan pihak industri yang ikut dalam Expo.
Budi Yuwono mengingatkan, bahwa teknologi kita di bidang air hingga sekarang masih konvensional dan terkesan mandeg. Padahal seperti di Singapura, teknologi membran misalnya maju pesat sementara kita hanya pengimpor teknologi.
Kita sebenarnya menurut Budi Yuwono mempunyai banyak ahli, tetapi terkesan belum matched dengan industri. Karena itu kegiatan seperti ini perlu dikomunikasikan dengan pihak industri supaya pihak industri terangsang untuk berperan dalam pengembangan suatu teknologi.
“Kita sering menganggap bahwa teknologi konvensional itu adalah yang paling murah,” ujar Budi Yuwono lagi seraya menambahkan, bahwa anggapan itu tidaklah benar. Sebagai contoh katanya, ada seseorang yang datang padanya menjelaskan bahwa tekonologi RO (reverse osmosis) sudah semakin murah, bahkan telah mencapai US$ 1. Artinya, teknologi tersebut sudah dapat mengolah air laut dengan biaya US$ 1 per meter kubik. “Padahal DKI sekarang menjual air Rp 7.000 per meter kubik, sudah hampir satu dolar karena ketidakefisienan kita.” ujarnya.
Tanpa mengambil perbandingan-perbandingan seperti itu menurut Budi Yuwono, kita merasa sudah puas.
”Itulah salah satu tujuan suatu Expo,” katanya lagi.
Ia meminta agar IATPI dalam hal ini membantu memberi warna. Termasuk mencari sesuatu yang berkaitan dengan gagasan untuk menggelar kegiatan-kegiatan terbuka seperti diungkapkan di muka. Dengan demikian pengunjung dapat mencapai puluhan ribu orang seperti yang pernah disaksikannya baru-baru ini. Asal temanya pas menurut Budi Yuwono, Perepamsi bersama-sama IAPI pasti dapat menyelenggarakan suatu kegiatan terbuka dengan sukses. Victor Sihite


ANGGOTA PERPAMSI 
Daftar Anggota PERPAMSI Seluruh Indonesia



