![]() |
|
PERPAMSI (PERUSAHAAN AIR MINUM SELURUH INDONESIA) MENGGELAR RAKERNAS DI JAKARTA http://www.globalnews.multiservers.com/perpamsi.htm
Senin 19 November 2007 - Jakarta (Global News)
Guna membahas agenda forum tahunan dan mengevaluasi pelaksanaan program -program yang disusun baik di tingkat DPD maupun tingkat DPP, bertempat Hotel Harris Jakarta-Selatan , pada 15-16 November 2007 PERPAMSI (Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia) menggelar agenda Rapat Kerja Nasional yang dihadiri kurang-lebih 100 anggota dari utusan Dewan Pengurus Daerah PERPAMSI, yang dibawah koordinasi Dewan Pengurus pusat Perpamsi.Rapat Kerja Nasional ini juga membahas program-progran yang telah berjalan, kendala-kendala yang dihadapi dan langkah-langkahnya apa yang akan diambil selanjutnya demi peningkatan kinerja PDAM selaku anggota. Pada pertemuan RAKERNAS para tukang ledeng ini rencananya dibuka oleh Menteri Pekerjaan Umum yang sekaligus akan memberikan pengarahan seputar dunia air minum dan sanitasi di Tanah Air, dan sebagai pembicara dalam Rapat Kerja Nasioanal ini yang digelar selama 2 hari yaitu Ketua Dewan Penasihat Perpamsi Prof.Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, juga akan tampil Direktur Pengelolaan Penerusan Pinjaman((P3) Departemen Keungan, Direktur Pengawasan BUMD Badan Pemeriksa Keungan dan Pembangunan(BPKP), Direktur Utama Dana Pensiun Bersama Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia(DapenmaPamsi)dan Direktur Administrasi dan Pendapatan Daerah Departemen Dalam negeri. Semua program yang disusun berkaitan erat dengan 1001 permasalahan yang dihadapi PDAM , yang menyebabkan PDAM sulit berkembang selama ini, kalau ditarik benang merahnya , permasalahan-permasalahan itu semua bermuara pada isu global dan isu nasional menyangkut air minum yang sering mengemuka dalam berbagai forum Internasional maupun Nasional, selain itu program-program di tingkat DPD maupun DPP tentu berkaitan dengan upaya penigkatan kinerja PDAM seluruh Indonesia yang kini berjumlah sekitar 320 ini yang berkembang karena setiap ada pemekaran wilayah, cenderung diikuti pemekaran PDAM.diketahui pula secara global ada komitmen dari sekitar 180 negara termasuk Indonesia yang dicetuskan tahun 2002 di Johannesburg, Afrika Selatan menyangkut berbagai bidang kehidupan umat manusia, komitmen itu tertuang dalam apa yang dinamakan MDGs(Millennium Development Goals) target yang harus dicapi tahun 2015 dalam berbagai bidang kehidupan manusia, salah satu butir MDGs itu menyangkut ketersediaan air minum dan sarana sanitasi yang menyatakan, bahwa terhitung tahun 2015 hendaknya separuh penduduk atau warga setiap negara yang selama ini tidak punya akses air minum dan sarana sanitasi yang memadai hendaknya sudah terlayani, secara nasional terget tersebut masih harus ditambah dengan pencapaian khusus seperti tercantum dalam PP 16 tahun 2005 yakni kalau selama ini PDAM baru berani menyatakan produk yang dihasilkannya air bersih, terhitung 2008 seyogiannya sudah bernama air minum. Jadi dalam Rakernas ini dibahas juga bahwa mampuhkan Indonesia mencapai target MDGs ini, oleh karena itulah dalam Rapat Kerja Nasional yang diadakan di Jakarta hanya sebatas penyediyaan air minum dengan system perpipaan, target itu memang tidak sepenuhnya dipikulkan kepada para tukang ledeng, karena pemerintah sendiri pun punya program khusus untuk itu sesuai dengan amanat undang-undang yang menyatakan bahwa penyediyaan air minum bagi warganya adalah tanggung jawab pemerintah,posisi PDAM seluruh Indonesia sekarang dalam rangka pencapaian MDGs itu jelas masih sangat jauh, cakupan pelayanan PDAM seluruh Indonesia dewasa ini baru mencapai 27% dan baru segelintir PDAM yang cakupannya sudah memenuhi target MDGs itu, yakni 80% untuk perkotaan dan 60 % tingkat pedesaan. Dari segi kualitas yang dihasilkan
instalasi pengolahan PDAM sesungguhnya sudah memenuhi syarat sebagai air
minum bila mengacu kepada persyaratan permenkes no 907/2002, tetapi begitu
air minum itu masuk ke jaringan transmisi, lalu ke jaringan distribusi,
belum lagi ke jaringan pipa pelanggan sendiri yang kondisinya macam-macam,
sulit untuk mempertanggungjawabkan air itu sebagai air minum.harus diakui
masih panjang dan masih sangat berat perjalanan menuju target tersebut
diatas , terlalu banyak kendala yang masih harus disingkirkan, menyebut
sebagian diantaranya, utang masih tertunggak karena tidak mampu membayar(akumulatik
sekitar Rp 6 triliyun), SDM plus manajemen yang belum sepenuhnya profesional,
masih ada intervensi Walikota/Bupati/DPRD di sebagian besar PDAM , tarif
masih jauh dari full cost recovery(menutupi biaya secara penuh), dan yang
tak kalah berat, sumber air baku di samping makin lagka kian hari kian
tercemar.(danny tobing/globalnews.com)
|