PERPAMSI - Persatuan Perusahaan Air Minum di Seluruh Indonesia
klik di sini untuk cetak

Kekeringan di Berbagai Daerah Ribuan Hektare Lahan Puso

http://www.suarapembaruan.com/News/2004/09/08/content.html

SUARA PEMBARUAN DAILY
PEMBARUAN/STEFY THENU

MENYUSUT - Debit air Bendung Guntur di Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, menyusut drastis pada musim kemarau ini. Akibatnya ribuan hektare sawah tidak lagi mendapatkan pasokan air. Gambar diambil Selasa (7/9) siang.

JAKARTA - Kekeringan tahun ini tidak separah 2003. "Kekeringan tahun ini tidak akan mempengaruhi produksi beras. Sekarang ini kekeringan menyebabkan sekitar 3.623 hektare (ha) lahan puso (gagal panen) sedangkan tahun lalu mencapai seratusan ribu hektare,'' kata Sekretaris Direktorat Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Bina Produksi Departemen Pertanian, Sutarto Alimoeso, Rabu (8/9).

Menurut data Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan, luas kekeringan tanaman pangan, khususnya padi pada 2004 (Januari-Agustus) mencapai 88.416 ha. Di antaranya, 3.623 ha dinyatakan puso.

Kekeringan terluas di Sulsel, yakni 34.823 ha (puso 13 ha), Jatim 18.092 ha (puso 830 ha), Jabar 11.838 ha (puso 599 ha), Jateng 10.675 ha (puso 744 ha), NTB 3.500 ha (puso 925 ha), dan Sumut 3.069 ha (puso 448 ha).

Luas kekeringan 2004 ini lebih rendah 84 persen dibanding periode yang sama 2003 yang mencapai 540.860 ha dan puso 111.224 ha.

Lebih rendah 44 persen dibandingkan luas kekeringan rata-rata lima tahun (1999-2003) pada periode sama, yaitu 157.257 ha dan puso 22.403 ha.

Dari Semarang dilaporkan, menurut Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jateng Ir Sukarno, Selasa (7/9), di wilayah itu sudah 14.399 ha tanaman padi rusak akibat kekeringan. Di antaranya, sekitar 1.857 ha rusak berat, 2.022 ha rusak sedang, 7.029 ha rusak ringan, dan 3.491 ha puso. Untuk palawija, tanaman kacang tanah yang kekeringan 6.045 ha dan puso sekitar 3.122 ha.

Sementara itu, kekurangan air bersih di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, sudah tergolong cukup parah. Sebanyak 116 desa di 14 kecamatan di kabupaten yang berbatasan langsung dengan ibu kota Jateng, Semarang itu kini kesulitan air bersih. Droping air dari Pemkab Demak masih belum mampu mengatasi kesulitan warga.

Dari 14 kecamatan di Demak, tercatat tiga kecamatan, yakni Guntur, Bonang, dan Wedung, yang kondisinya paling parah, karena seluruh desa di sana mengalami kekurangan air bersih. Berdasarkan pemantauan di wilayah yang kesulitan air bersih tersebut, Selasa, seluruh sumur milik warga tak berair. Sejumlah pompa air yang dibangun pemda tak lagi berfungsi. Selain, rusak karena usia juga tak ada air yang bisa disedot.

Wartini (30), warga Desa Guntur, Kecamatan Guntur, mengeluhkan kondisi tersebut. ''Tolong kami dibantu, Pak. Sejak musim kering ini banyak sumur warga yang kering. Untuk mandi kami terpaksa minta kepada warga yang punya sumur pompa. Kalau untuk masak dan minum kami terpaksa beli air,'' ujar ibu dua anak ini.

Sekretaris Kecamatan Guntur, Sugiyarto, mengakui seluruh desa di wilayahnya kesulitan air bersih. Dia mengaku, droping air bersih ke wilayahnya sudah dilakukan Pemkab Demak sejak 30 Agustus lalu, namun tak mampu mengatasi kesulitan warganya.
Dikemukakan, banyak warga terpaksa menempuh jarak puluhan kilometer untuk mencari air bersih. ''Kalau hari ini air didrop di Desa Guntur warga dari desa-desa lain berdatangan untuk ikut meminta jatah air bersih tersebut, begitu seterusnya. Bisa dibayangkan, warga benar-benar sangat membutuhkan air,'' katanya.

Kepala Bagian Informasi dan Komunikasi Pemkab Demak, Dra Endah Cahyarini MM, mengemukakan, Pemkab telah mendroping air bersih sejak 30 Agustus lalu. Setiap harinya, dua tangki berisi masing-masing 5.000 liter air bersih melayani satu kecamatan.

Endah mengatakan, berdasarkan data yang dihimpun Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Demak, jumlah desa yang kesulitan air bersih 116 (dari total 241 desa).

Kekeringan juga mengakibatkan sebagian besar saluran irigasi di Demak menyusut airnya secara drastis. Bahkan sebagian lainnya kering. Bendung Guntur di Kecamatan Guntur, misalnya, yang menyuplai kebutuhan air untuk persawahan di dua kecamatan, yakni Guntur dan Karangtengah, sejak tiga bulan terakhir tak lagi berair.

Menurut petugas pengairan di bendung tersebut, Kastori (50), Bendung Guntur menyuplai kebutuhan air untuk sawah seluas 2.031,48 hektare, yang normalnya dapat menyalurkan air 2,5 kubik per detik. ''Kalau sekarang kondisi seperti ini banyak sawah yang tak dapat air,'' ujar Kastori.

Ashadi, Kepala Desa Tangkis, Kecamatan Guntur, mengatakan, sejak kekeringan terjadi banyak pria dewasa di desanya yang terpaksa meninggalkan sawahnya yang kering untuk pergi ke Semarang mencari pekerjaan.

Unjuk Rasa
Ratusan penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Muarobungo berunjuk rasa akibat sudah lama kesulitan air bersih. Kesulitan itu terjadi karena kucuran air dari PDAM Pancuran Telago Muara Bungo sering macet dan listrik sering mati.

Kepala LP Muarabungo Drs Abdul Chalim BciP kepada wartawan di Jambi, Selasa, mengungkapkan, aksi unjuk rasa akibat kesulitan air dan listrik yang dilakukan 91 narapidana dan 51 tahanan itu sering terjadi. Aksi mereka terjadi lagi Senin - Selasa (6-7/9).

Kesulitan air bersih di Provinsi Jambi meluas ke beberapa kabupaten dan kota. Saat ini warga Kota Kualatungkal, Kabupaten Tanjungjabung Barat, sudah sulit mendapatkan air bersih karena pasokan dari perusahaan air minum setempat macet.

Selain itu warga transmigrasi di Kecamatan Tungkalulu dan Merlung, Kabupaten Tanjungjabung Barat, juga semakin kesulitan mendapatkan air bersih. Sumur warga kering karena hujan tidak turun. Warga terpaksa mengambil air hingga lima kilometer di kawasan yang lebih rendah.

Nyonya Maria (37), warga transmigrasi Merlung, di Jambi Selasa mengatakan, mereka terpaksa mengambil air ke sumur di daerah dataran rendah yang jaraknya sekitar lima kilometer. Untuk mendapatkan air tersebut harus antre sejak subuh. Warga yang datang mengambil air pukul 08.00 WIB biasanya tidak lagi mendapatkan air karena sumur sudah kosong dikuras warga.

Didata
Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bengkulu mendata luas sawah petani di beberapa daerah tingkat II yang kekeringan. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bengkulu, Ir Mangsuri Thaib, kepada wartawan, Selasa.

Ia mengatakan, hingga kini pihaknya belum dapat laporan dari masing-masing kabupaten tentang luas sawah petani yang kekeringan. Namun, pihaknya memperkirakan luasnya tidak seluas yang terjadi di Pulau Jawa, mengingat sebagian besar sawah di Bengkulu sudah diairi irigasi tehnis.

Beberapa daerah yang sawahnya beririgasi teknis pada musim kemarau ini masih sempat melaksanakan panen sela. Petani yang panen itu di Rejang Lebong, Bengkulu Selatan, Bengkulu Utara, dan sebagian di Kabupaten Muko-Muko.

Sedangkan sawah petani yang kekeringan umumnya sawah tadah hujan seperti di Kepahyang, Kaur,dan sebagian di Kabupaten Muko-Muko.

Meskipun demikian, Dinas Pertanian tetap memantau di lapangan dan membuat program untuk mengantisipasi dampak kekeringan.

Syaiful (42), petani di Padang Guci mengatakan, Senin (6/9) malam Padang Guci dan sekitarnya diguyur hujan lebat, sehingga sawah-sawah yang sebelumnya kering sudah berair.

Namun, petani belum dapat menggarap sawahnya. Masalahnya, hujan tersebut belum dapat menutupi retak-retak di sawah akibat parahnya dampak kekeringan. Jika hujan turun terus-menerus dipastikan pekan depan petani sudah dapat menggarap lahannya. (A-15/142/141/143)