![]() |
|
Pengambilan Air Bawah Tanah Mengkhawatirkan http://www.suarapembaruan.com/News/2004/09/06/Jabotabe/jab13.htm SUARA PEMBARUAN DAILY Diperkirakan, 10 tahun mendatang, warga akan kesulitan mendapatkan air bersih karena tidak ketatnya pengawasan pengambilan air tanah. Menurut Ryan, konsultan PT Parikesit Indotama, yang memaparkan hasil identifikasi dan pemetaan wilayah konservasi air tanah, pekan lalu di Tangerang, 10 tahun ke depan air di daerah ini akan langka jika pengambilan air dilakukan lebih dari 100 m3/hari, dengan jarak sumur lebih dari 100 meter. Dikemukakan, aktivitas pengambilan air bawah tanah harus diimbangi dengan pembuatan sumur resapan air dengan kedalaman sekitar 10-15 meter. Hal ini untuk menjaga keseimbangan air, sehingga tidak menyusut secara drastis. "Sebaiknya setiap pengajuan izin pengambilan air bawah tanah juga disertai kewajiban membuat sumur resapan, sehingga air hujan bisa tertampung dan tidak langsung terbuang ke sungai," ujarnya. Namun, konsultan ini menyebutkan dua kecamatan, yakni Cipondoh dan Batuceper, tidak terintrusi air laut. Beberapa waktu lalu, Wali Kota Tangerang Drs H Wahidin Halim MSi mengatakan, kedua kecamatan itu telah terintrusi air laut akibat berkurangnya lahan terbuka untuk sumur resapan, sedang pengambilan air bawah tanah terus berlangsung. Di wilayah Kota Tangerang dari 700 industri, baru lima yang menyediakan lahan terbuka untuk resapan air. Oleh karena itu wali kota mengimbau agar industri dan rumah tangga menyediakan lahan terbuka untuk menampung air sehingga tidak kekeringan di musim kemarau dan tidak kebanjiran di musim hujan. (132)
|