MAJALAH AIR MINUM Edisi 179 Agustus 2010 

Yenny Rachman
Menghargai Air
Bagi artis kawakan Yenny Rachman, wajib hukumnya menjaga sumber air yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Karena apa pun bentuknya, mahluk hidup tidak akan bisa hidup tanpa air.
Menurut artis yang populer di tahun 1970-1980, menghargai air salah satunya bisa dilakukan dengan menjaga air untuk dipergunakan sebagaimana mestinya dan tidak hambur. Karena kalau kita tidak bisa menghargai air, kata wanita berdarah Aceh-Tionghoa-Madura kelahiran 18 Januari 1959, maka semakin hari air akan semakin rapuh, semakin hilang dan kita akan sulit untuk menuju kehidupan yang lebih baik.
”Termasuk anak-cucu kita nantinya akan sulit mendapatkan air. Sekarang saja kita sudah merasakan sulit mendapatkan air bersih dan sesungguhnya sumber air bersih yang di-delivery untuk kebutuhan manusia itu boleh saya yakini sudah sangat meragukan sekali kebersihannya,” kata Yeyen, sapaan akrab perempuan yang mengawali karir sebagai bintang iklan, foto model dan peragawati sejak usia 14 tahun.
Oleh karena itu, lanjut sosok yang pada akhir tahun 70-an dikenal sebagai salah satu bintang dari The Big Five (selain Roy Marten, Doris Callebaute, Yati Octavia dan Robby Sugara), kita harus mulai menjaga air dalam kehidupan kita. Tentunya hal ini bisa dimulai dari lingkup terkecil yakni keluarga.
”Di rumah saya selalu pesan kepada pembantu agar tidak boros menggunakan air misalnya ketika menggunakan mesin cuci. Saya selalu melarang pembantu mencuci 2-3 helai baju di mesin cuci. Kalau cuma 2-3 helai cukup pakai tangan saja dikocok-kocok. Jadi itu cara-cara kita mulai sayang dengan air supaya tidak terbuang percuma,” ujar Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) periode 2006-2010.
Sebagai seorang muslimah, Yeyan juga percaya bahwa air bisa membuat seorang wanita menjadi cantik dan bercahaya. ”Contohnya bagi wanita muslimah semakin dia menggunakan wudhu semakain kelihatan charming, bersih, nur-nya kelihatan. Tetapi juga ada sunnah agar kita bisa menjaga wudhu sehingga kalau kita bisa menjaga wudhu dan kebersihan diri, kita nggak perlu lagi wudhu. Itu salah satu ajaran Islam untuk kita hemat dengan air,” senyumnya.
Peraih dua Piala Citra melalui film Kabut Sutra Ungu (1979) arahan sutradara Sjumandjaja dalam FFI 1980 dan Gadis Marathon (1981) arahan Chaerul Umam pada FFI 1982, tak lupa menitipkan kritik untuk pemerintah. Yeyen melihat keseriusan pemerintah untuk mengontrol sistem pengambilan air tanah dengan pembuangan air kotor di masyarakat belum begitu berjalan.
”Ini sangat riskan. Saya pernah baca penelitian di Australia yang menyebutkan kondisi air bersih di Indonesia sangat mengkhawatirkan dan sebenarnya dinding rumah kita sudah tidak sehat lagi apalagi rumah yang berdempet-dempet bagaimana mereka mengambil air bersih dan membuang air kotor tidak begitu dipikirkan dan dikontrol oleh pemerintah,” imbuh perempuan yang pada 18 April 2008 lalu resmi disunting Supradjarto, salah satu direksi Bank BRI. Ahmad Zazili
Download File: Cover MAM 179.pdf


ANGGOTA PERPAMSI 



