![]() |
| PDAM Rugi Rp 11,8 Miliar http://www.pikiran-rakyat.com/daerah2.php?id=12691 INDRAMAYU, 08/06/04 (PR).- Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Indramayu sejak sepuluh tahun lalu tak pernah untung dan terus merugi. Dalam dua tahun terakhir saja kerugian yang dialami mencapai Rp 11,8 miliar. Bila tidak segera dilakukan penyesuaian tarif, perusahaan pemasok air minum itu diprediksikan hanya tinggal nama. Direktur Utama PDAM Indramayu, Suyanto, ST dalam perbincangan dengan "PR", Senin (7/6) mengatakan, kerugian pada tahun 2002 mencapai sebesar Rp 4,9 miliar. "Sementara untuk tahun 2003, kendati belum dilakukan audit besarnya kerugian diperkirakan mencapai Rp 6,9 miliar," ujarnya. Penyebabnya, kata Suyanto yang pada kesempatan itu didampingi Kasi Bina Langganan Endang Effendi, SE, disebabkan karena tingginya komponen biaya produksi yang terus melonjak dari tahun ke tahun. Terbesar adalah biaya listrik untuk PLN yang mencapai sebesar Rp 400 juta per tahun atau 30% dari seluruh biaya produksi. Di luar itu, tarif pelanggan yang tidak pernah mengalami penyesuaian sejak tahun 1999 juga menjadi beban tersendiri. "Sementara kita tahu tarif PLN dan telepon juga sudah beberapa kali mengalami kenaikan. Akibatnya beban PDAM menjadi sangat berat dengan tarif yang masih dipatok sebesar Rp 750,00/liter," kata Endang Effendi. Suyanto dan Endang Effendi mencontohkan tarif PDAM di sejumlah kabupaten tetangga seperti Kabupaten Kuningan, Karawang, Subang dan Cirebon yang telah mengalami penyesuaian tarif sampai beberapa kali. Kini, kata keduanya, di beberapa kabupaten tersebut tarif PDAM antara Rp 1.400,00 sampai Rp 1.500,00 per liter. Bahkan di Kabupaten Bekasi mencapai Rp 1.800,00 per liter. "Akibat tarif yang tak kunjung dilakukan penyesuaian inilah kerugian di PDAM Indramayu tak pernah tertuntaskan dan terus merugi hingga kini," tandas keduanya. Menurutnya disesuaikan dengan realitas yang ada, PDAM Indramayu pernah mencoba mengajukan penyesuaian tarif melalui pihak eksekutif pada tahun 2000. Namun pada saat itu, Bupati H. Irianto M.S. Syafiuudin menganggap masyarakat Indramayu belum siap akibat kondisi krisis yang berkepanjangan. Hingga PDAM pun mengurungkan niatnya untuk melakukan penyesuaian tarif. Konsekuensinya, berbagai efisiensi telah dilakukan di samping menekan tingkat loses (kehilangan air). Hanya saat ini, ketika jumlah kerugian semakin membesar, penyesuaian tarif tidak mungkin untuk ditunda lagi. Karenanya PDAM pada tahun 2004 ini merencanakan penyesuaian tarif untuk mengurangi besarnya kerugian yang terjadi. "Penyesuain tarif yang kami ajukan sebesar Rp 1.300,00 per liter. Ini jauh lebih rendah dari biaya produksi yang semestinya 2.400,00 per liter," kata Suyanto. Pertimbangannya, kata Direktur PDAM tersebut, pelanggan PDAM Indramayu 95% adalah kategori pelanggan rumah tangga. Hingga bila dipaksakan penyesuaian tarif sebesar biaya produksi dapat mengundang gejolak. (A-96)***
|