PERPAMSI - Persatuan Perusahaan Air Minum di Seluruh Indonesia
klik di sini untuk cetak

Di Sleman dan Bantul Juga...

Kompas, Senin 17 Mei 2004

KRISIS air menjadi permasalahan serius yang dihadapi petani di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, dan telah memicu percepatan penyusutan area sawah.

Krisis air itu dipicu adanya konflik kepentingan antara petani dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) serta kegiatan penambangan yang telah merusak saluran irigasi dan mematikan mata air.

Selama satu bulan terakhir, konflik keras antara petani dan PDAM di Sleman telah menyulut kemarahan ratusan petani. Bahkan, petani sempat akan merusak jaringan air PDAM yang telah menyedot jatah pengairan untuk petani dari mata air Umbul Wadon.

"Kami bukan lagi gagal panen, tetapi gagal tanam karena air untuk mengairi sawah tidak cukup. Padahal, kami tinggal di lereng Merapi yang menyediakan air bagi ratusan ribu warga di seluruh Yogya. Inikah keadilan?" keluh Basuki (34), petani Dusun Panguk, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, pekan lalu.

Keluhan petani yang tinggal sekitar satu kilometer dari mata air terbesar di lereng Merapi itu terjadi karena tiga PDAM mengambil air dari mata air itu melampaui batas yang disepakati. Dia adalah satu dari ratusan petani lain di Kecamatan Cangkringan, Pakem, dan Ngemplak yang mengeluhkan sawah mereka kekeringan karena air irigasi dari Kali Kuning semakin mengecil.

Menurut hasil pengukuran debit mata air Umbul Wadon yang dilakukan oleh Dinas Pengairan Pertambangan dan Penanggulangan Bencana Alam (PPPBA) Sleman pada bulan Desember 2003, PDAM Sleman telah mengambil air sebanyak 192,50 liter/detik, PDAM Tirta Marta mengambil 42,30 liter/detik, Perusahaan Daerah Anindya 6,16 liter/detik, dan masyarakat 19,58 liter/detik. Sedangkan untuk irigasi hanya 98 liter/detik.

Menurut data tersebut, jumlah air yang dipakai untuk minum adalah 260,54 liter/detik atau 72,6 persen dari total debit air yang mencapai 358,54 liter/detik.

Padahal, menurut kajian analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), seharusnya penggunaan Umbul Wadon untuk air minum adalah 35 persen, konservasi 15 persen, dan irigasi 50 persen.

PERMASALAHAN lain yang dihadapi petani Sleman adalah kerusakan saluran irigasi akibat penambangan pasir. Di Dusun Parakan Wetan, Desa Sedangasari, Kecamatan Minggir, penambangan pasir liar telah memutus saluran air dari Sungai Progo. Penambangan pasir itu juga merusak saluran irigasi Kali Putih yang mengairi 200 hektar sawah.

Di Desa Wedomartani, ratusan hektar sawah petani juga kekeringan dan mengalami gagal tandur karena sumber air yang mengairi sawah mereka mengering sejak penambangan ilegal tanah kas desa di Dusun Gedongan Lor.

Ketua Kelompok Tani Makmur di Wedomartani, Sarbini (43), mengatakan, sejak penambangan itu, mata air yang menjadi tumpuan irigasi petani telah mati. Akibatnya, petani menjadi kesulitan menanam padi. "Pada musim hujan saja kami kesulitan air, apalagi nanti kalau musim kemarau. Kami tidak tahu bagaimana nasib kami," keluh Sarbini.

Menurut Sarbini, anggota kelompok taninya yang berjumlah 58 petani hanya mengandalkan mata air kecil di sekitar persawahan mereka. "Kami tidak mendapat jatah irigasi secara langsung dari Kali Kuning. Untuk keperluan setiap hari, kami hanya mengandalkan mata air kecil di sekitar sini. Tetapi, sekarang mata air itu telah mati, bagaimana nasib kami nantinya?" kata Sarbini.

Hardo Pawiro (66), petani di Dusun Demangan, mengatakan, sebelum penambangan, petani tak pernah kekurangan air karena banyak tuk (mata air kecil) di sekitar selokan. Namun kini tuk-tuk itu mati. "Penggalian tanah dengan kedalaman lebih dari empat meter itu menyebabkan air tersedot semua ke lubang itu. Urat-urat air yang mengalir di dalam tanah juga menjadi rusak sehingga tuk menjadi mati," kata Hardo.

Permasalahan lain yang dihadapi petani di Sleman adalah pengeringan Selokan Mataram dan Vanderwicjk yang merupakan kegiatan rutin setiap tahun dan diagendakan oleh Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Alasannya, hal itu dilakukan untuk memperbaiki kondisi fisik selokan.

Namun, proses pengeringan yang berlangsung selama sebulan pada bulan kemarau telah menghancurkan pertanian. Tahun lalu, pengeringan yang dilakukan pada bulan Juli telah membuat kerugian bagi petani yang ditaksir mencapai Rp 20 miliar.

Ribuan petani Sleman yang sangat bergantung pada aliran selokan itu pun menjerit dan harus mengalami satu kali masa tanam. "Setelah dikeringkan sebulan, tanah di sawah menimbulkan lubang-lubang menganga. Walaupun air sudah diairi lagi, minimal kami tidak bisa menanam padi selama satu musim," kata Waluyo, petani dari Desa Sendangsari, Minggir.

Kerugian paling besar dialami petani ikan. "Ikan, terutama udang, bukan sekadar butuh air, tetapi membutuhkan air yang mengalir. Walaupun ada air, tetapi tidak mengalir, udang tetap tidak sehat dan sangat mudah terserang penyakit. Apalagi air hujan sebenarnya tidak baik bagi ikan karena mengandung kadar asam sangat tinggi sehingga harus cepat-cepat dialirkan," kata Purwanto Hadi, petani udang galah dari Dusun Jamur, Desa Sendangrejo, Kecamatan Minggir.

Purwanto menambahkan, pengeringan selokan sebagai penyuplai air juga akan menghambat pembenihan ikan sehingga minimal akan mengganggu siklus panen petani dalam satu periode.

"Kalau setiap tahun tetap ada pematian selokan selama satu bulan, pertanian di Sleman tak akan mungkin berkembang," kata pengurus Kelompok Tani Rukun Agawe Sentosa itu.

Bupati Sleman Ibnu Subiyanto mengatakan, pengeringan Selokan Mataram dan Vanderwicjk yang dilakukan tiap tahun disebabkan minimnya dana untuk perawatan. "Jika dana perawatan selokan banyak, tentu bisa dicarikan teknologi perawatan selokan tanpa harus dikeringkan selama sebulan penuh," katanya.

Sampai akhir April 2004, jumlah saluran irigasi pertanian dan bendung di Sleman yang rusak sebanyak 89 buah atau hampir 90 persen dari total jaringan irigasi sebanyak 98 jaringan.

Kepala Seksi Operasi dan Pemeliharaan (Dinas Irigasi, Pertambangan, dan Penanggulangan Bencana Alam/PPPBA) Sleman Arif Pramana mengatakan, kendala utama untuk memperbaiki saluran irigasi itu adalah masalah dana.

"Setiap tahun kami hanya memperoleh dana perbaikan irigasi Rp 405 juta dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Dana itu hanya bisa untuk memperbaiki maksimal 20 jaringan irigasi," katanya.

Potret suram kehancuran pertanian di Sleman bisa dilihat dari terus menyusutnya lahan pertanian. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian DIY, selama satu dekade terakhir penyusutan lahan pertanian di DIY rata-rata 0,5 persen per tahun. Jika pada tahun 1994 luas sawah di DIY adalah 61.151 hektar, kini luas sawah tinggal 58,07 hektar.

Sleman merupakan daerah dengan area penyusutan sawah yang paling luas, yaitu rata-rata 178 hektar per tahun. Penyusutan luas sawah ini berdampak pada menurunnya luas panen dan produksi DIY yang dalam kurun waktu empat tahun terakhir menurun rata-rata 1,05 persen per tahun, sedangkan luas panen padi merosot rata-rata 1,64 persen per tahun. Jika kemerosotan ini terus terjadi, masa depan pertanian di Yogyakarta pun patut dicemaskan.

DI Bantul juga terjadi peralihan fungsi sawah menjadi permukiman. Menurut Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul Anas Ma’ruf di ruang kerjanya, Sabtu (1/5), lahan pertanian yang banyak dijadikan permukiman terdapat di Kecamatan Sewon, Banguntapan, dan Kasihan. Semua perubahan fungsi itu dilakukan melalui keputusan Bupati Bantul yang kemudian dilaksanakan kantor pertanahan.

Pada tahun 2003 lalu, sedikitnya 28,9 hektar sawah di Bantul berubah fungsi menjadi lahan pekarangan. Perubahan itu meliputi izin perubahan penggunaan tanah seluas 13,02 hektar, izin lokasi seluas 5,28 hektar, dan pembentukan klarifikasi tanah seluas 10,62 hektar.

"Perubahan fungsi lahan itu sebagian masih dalam proses, sebagian telah berubah fungsi. Perubahan itu juga mencakup lahan pertanian yang digunakan untuk pembangunan stadion di Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon," kata Anas. (k07/k10)