PERPAMSI - Persatuan Perusahaan Air Minum di Seluruh Indonesia
klik di sini untuk cetak

PDAM Bantul Tidak Naikkan Tarif

http://www.bernas.info/modules.php?name=News&file=article&sid=9176

20/04/2004 Bantul, Bernas
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bantul sama sekali belum memiliki rencana untuk menaikkan tarif air produksinya. Hal itu dilakukan sekalipun laju perkembangan perusahaannya masih cukup berat. Direktur Utama PDAM Bantul Ir Agung Darmadi ketika ditemui Bernas di ruang kerjanya, Senin (19/4) kemarin menjelaskan, laju perkembangan yang cukup berat ini dikarenakan PDAM tidak menggunakan daya gravitasi di dalam mengalirkan air produksinya ke tingkat pelanggan. Melainkan 100 persen masih menggunakan pompa listrik.

Menurut dia, jumlah sumur yang dimiliki saat ini sekitar 18 buah. Hal itu masih ditambah dengan 1 mata air. Namun dari sekian sumber air yang dimiliknya seluruhnya masih menggunakan sistem pompa. Beban tersebut semakin bertambah setelah pemerintah memberikan kebijakan tarif industri. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan 10.300 pelanggan, setiap bulannya PDAM harus membayar beban listrik sebesar Rp 82 juta. "Dalam setahun kemarin, PDAM hanya menaikkan tarif sekali. Tapi ini tetap tidak seimbang. Sebab dalam setahun itu juga, PLN telah menaikkan tarifnya sebanyak 3 kali," jelas Agung Darmadi.

Untuk menekan beban biaya listrik yang harus dibayarkannya, Agung Darmadi mengaku pernah mengirimkan permohonan ke Presiden. Langkah ini dilakukan karena PDAM bukan perusahaan yang berorientasi pada profit, melainkan berorientasi sosial. Meski demikian, permohonan itu sampai sekarang belum ada balasan. "Jumlah pelanggan kami memang sudah pecah telor. Bila dulu selama 9 tahun berturut-turut hanya mencapai 9.000 pelanggan, sekarang sudah mencapai 10.300 pelanggan. Tapi bila penggunaan rata-rata masih minimal, yaitu kurang dari Rp 11.000, itu tetap cukup berat bagi kami," katanya.

Kalaupun sampai sekarang masih bisa beroperasi, menurut dia, ini dikarenakan PDAM Bantul telah melakukan efisiensi. "Bila dulu pompa di masing-masing sumur kita hidupkan, sekarang telah kita gabungkan. Sehingga ini bisa menekan biaya," katanya.

Dampak Kampanye
Sementara itu berkaitan dengan pesta demokrasi atau pemilu 2004 kemarin, PDAM ternyata terkena dampaknya. Kondisi tersebut terjadi menyusul rusaknya jaringan PDAM (pipa) akibat pemasangan bendera parpol yang dilakukan secara sembarangan. "Kerusakan itu yang terjadi terutama adalah pipa pecah. Kami menduga ini akibat terkena linggis (besi) saat pemasangan bendera parpol," jelas Agung.

Kondisi tersebut telah mengakibatkan terganggunya suplai air ke pelanggan. "Ada yang sempat terganggu selama 2 hari. Tapi ada pula yang lebih. Namun sekarang jaringan yang rusak telah kami perbaiki. Sehingga aliran di tingkat pelanggan sudah tidak ada masalah," katanya. (skd)