![]() |
| Belum Tertangani, Kelangkaan Air Bersih di Pemongkong Selong (Suara NTB) – Kelangkaan air bersih di Pemongkong, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur bagian selatan, sejak puluhan tahun silam hingga kini belum tertangani secara baik. Berbagai program perpipaan dengan dana APBN ataupun bantuan luar negeri -- salah satunya Jerman (GTZ) -- telah direalisasikan, tetapi belum mampu mengatasi persoalan krusial penduduknya. Keterangan yang diperoleh Suara NTB dari penduduk setempat, Senin (8/3) kemarin menyebutkan, langkanya air bersih menyebabkan rentannya warga terjangkit berbagai jenis penyakit. ''Hanya berharap dari air hujan, sulit bagi kami untuk mengikuti anjuran pemerintah untuk selalu hidup sehat,'' kata Amaq Ansor, penduduk di Dusun Jelok Buso, Desa Pemongkong. Hal senada diungkapkan Hardi, warga Dusun Pengoros. Untuk kebutuhan air minum, mereka harus mengeluarkan uang guna membeli air dari PDAM Lotim. Tiap mobil tangki PDAM tiba, penduduk rebutan menjadi orang yang pertama mendapat kucuran air dari pipa tangki itu. ''Kadang-kadang kami harus berkelahi untuk rebutan air,'' ungkapnya. Seringkali suasana kekerabatan antarpenduduk di dusun tersebut menjadi kurang harmonis hanya gara-gara rebutan air. Pemerintah diminta mau memahami keluhan mereka dan memberikan solusinya. Dirut PDAM Lotim, M. Sugiri, S.Sos menerangkan, PDAM memiliki empat armada mobil tangki yang tiap harinya diarahkan untuk melayani kebutuhan air warga Pemongkong. ''Mereka mengganti ongkos angkut Rp 53.000 per tangki,'' katanya. Nilai tersebut, katanya, masih sangat jauh dari sisi ideal. Tetapi bagi warga Pemongkong, nilai itu cukup besar mengingat latar belakang ekonomi penduduk yang hanya mengandalkan hasil garapan di atas lahan kering. ''Sebenarnya sudah waktunya tarif PDAM disesuaikan, sebab dengan harga jual Rp 450 per kubik sekarang ini, tarif PDAM Lotim menjadi yang termurah se-NTB,'' katanya. ''Masyarakat Pemongkong, walaupun tiap hari disuplai kebutuhan air bersih, tetap saja merasa tidak cukup,'' katanya lagi. Dia mengakui kebutuhan air per orang/hari belum terpenuhi untuk warga setempat. Karenanya, bagi Sugiri, perlu ada tambahan armada mobil tangki air bersih untuk daerah minus irigasi di sana. Menurut Sugiri, idealnya tarif PDAM disesuaikan dengan harga jual Rp 750 per kubik. Kini, PDAM Lotim sudah mulai memberikan kontribusi kepada kas daerah, Rp 217 juta tahun 2004. Kontribusi ke kas daerah bisa terwujud lantaran berbagai upaya efisiensi di tubuh satu-satunya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Lotim itu. (038). Sumber : (http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/3/9/nt1.htm)
|