PERPAMSI - Persatuan Perusahaan Air Minum di Seluruh Indonesia
klik di sini untuk cetak

PDAM Semarang Kekurangan Air - Meskipun pada Musim Hujan

Semarang, Sama halnya pada waktu musim kemarau, musim hujan seperti sekarang ini, Perusahaan Daerah Air Minum Kota Semarang tetap kekurangan pasokan air baku. Akibatnya, pendistribusian air bersih ke sebagian pelanggan tidak lancar. Bahkan, di beberapa tempat air hanya mengalir hampir tiga hari sekali.

Untuk memenuhi kebutuhan 130.000 pelanggan dibutuhkan pasokan 2.500 liter air per detik per hari. Saat ini maksimal baru 2.172 liter per detik per hari.

"Saya ini sudah membayar mahal untuk langganan PAM (PDAM), tetapi airnya tetap saja tidak lancar. Musim hujan tetap saja tidak lancar. Rata-rata mengalir dua hari sekali. Bahkan, sering kali tiga hari sekali. Itu pun hanya sebentar mengalirnya, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dulu wali kota (Sukawi Sutarip) janji kalau tarif naik, air akan mengalir 24 jam sehari," kata Sulis, warga Perumnas Banyumanik, Semarang, Jumat (27/2) di Semarang.

Dengan alasan meningkatkan pelayanan, secara bertahap mulai bulan Oktober 2003 PDAM Kota Semarang menaikkan tarif air hingga 260 persen. Perinciannya, untuk pelanggan golongan Rumah Tangga (RT) I naik 100 persen, RT II naik 148 persen, dan RT III dan IV, serta kelompok niaga naik 220-260 persen. Waktu itu Wali Kota Sukawi Sutarip menyatakan, kenaikan tarif itu hanya berlaku bagi pelanggan yang mendapatkan aliran air setiap hari selama 24 jam. Namun, kenyatannya kenaikan tarif diberlakukan secara umum.

Oleh karena pasokan air dari PDAM tidak dapat diandalkan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Sulis mengandalkan air sumur milik tetangganya. Setiap kali pasokan air dari PDAM kurang, Sulis terpaksa memompa air dari sumur tetangganya. Hal ini cukup merepotkan, selain karena harus mengeluarkan tenaga ekstra, Sulis juga harus antre untuk memompa air. Karena, beberapa tetangganya, yang juga pelanggan PDAM, ternyata mengalami kekurangan air seperti dirinya.

Hanya 70 persen

Kurangnya pasokan air ke pelanggan itu diakui Kepala Bagian Sekretariat PDAM Kota Semarang Etty Laksmiwati. Untuk memenuhi kebutuhan air 130.000 pelanggan PDAM Kota Semarang, dibutuhkan pasokan air minimal 2.500 liter per detik. Namun, saat ini dalam kondisi normal atau bukan musim kemarau, pasokan air ke pelanggan maksimal 2.172 liter per detik. Akibatnya, hanya 70 persen pelanggan yang mendapatkan pelayanan dengan baik.

"Selain karena pasokan air bakunya yang kurang, lancar atau tidaknya aliran air ke pelanggan juga disebabkan topografi lahan di Kota Semarang yang berbukit. Untuk pelanggan yang berada di daerah relatif rendah, pasokan airnya relatif lancar. Sebaliknya, jika rumahnya di daerah lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya, aliran airnya sering kali tidak lancar," kata Etty.

Untuk mengatasi hal itu, menurut Etty, PDAM Kota Semarang akan berupaya memperbaiki pompa pendorong untuk menjangkau pelanggan di daerah yang tinggi. Banyak pompa pendorong yang tidak berfungsi dengan baik sehingga ketika pasokan air untuk daerah tersebut diperbesar, yang terjadi justru pasokan air untuk pelanggan di daerah yang lebih rendah menjadi berlimpah.

Namun, untuk memperbaiki pompa pendorong yang sudah tidak berfungsi dengan baik itu, menurut Etty, dibutuhkan dana tidak sedikit. Dengan adanya kenaikan tarif air minum, memang menaikkan pendapatan PDAM Kota Semarang yang selama ini merugi. Surplus penerimaan itu belum cukup memperbaiki pelayanan seperti yang diharapkan pelanggan. Meski tidak lagi merugi, PDAM Kota Semarang masih punya utang ke Bank Dunia Rp 352 miliar.

Menggandeng swasta

Selain memperbaiki pompa pendorong, jelas Etty, PDAM juga berupaya menggandeng swasta untuk penyediaan air bersih yang akan disalurkan kepada pelanggan. Sudah banyak perusahaan swasta maupun perseorangan yang berminat dengan tawaran PDAM Kota Semarang ini. Namun, sejauh ini belum ada yang menyatakan bersedia bekerja sama dengan PDAM Kota Semarang.

Etty memaparkan, selama ini kebutuhan air baku PDAM Kota Semarang dipasok dari air Sungai Garang, air Waduk Kedungombo yang disalurkan melalui Bendung Klambu, serta sumber air dalam yang diambil dari sumur-sumur di Ungaran (Kabupaten Semarang) dan Boja (Kabupaten Kendal). Dari semua sumber air baku itu, 70 persen dipasok dari air Sungai Garang. (IKA)(Kompas, 28 Februari 2004)

Sumber : (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0402/28/jateng/883200.htm)